Pindah rumah dulu…

Pindahan dulu… ke new-ahmad.blogspot.com ficrizzie.wordpress.com (ini blog terbaru gw.. satu-satunya blog yang masih dipakai)

Masa-masa pencarian itu berakhir juga.. :D

tagged! 6 Weird Things About Me

The rule is:

Each player of this game starts with 6 weird things about themselves. People who get tagged need to write a post of their own 6 weird things as well as state the rule clearly. In the end, you need to choose 6 people to be tagged and list their names. Don’t forget to leave a comment that says you are tagged in their comments and tell them to read your blog.

Asiik, gw ditag sama Zaki! Hampir aja ditag juga sama Fajrin, jadi double-tagged (istilah keren, tuh!)

Kalo disuruh tulis 6 hal teraneh, ini nih kayaknya…

1. Suka telat.

Kata “SUKA telat” bisa diartikan “SERING telat” ataupun “MENYUKAI ketelatan”.

Filosofi ini gw dapetin pas SMA. Suatu saat, tumben-tumbennya gw nggak telat dateng ke sekolah. Gara-gara itu, gw jadi kehilangan suatu anugerah yang sangat berharga, yaitu SINAR MATAHARI PAGI.

Terlambat datang ke sekolah membuat gw berkesempatan menikmati sinar mentari yang kaya vitamin D itu, sementara di saat yang sama temen2 mendekam di ruang kelas yang gelap, atau paling pol terang oleh lampu listrik berikut radiasinya.

Tapi sekarang gw agak berubah. Gimana juga, telat itu jauh lebih banyak konyolnya ketimbang warasnya! Tapi sulit banget buat berubah………

2. Gak pernah mandi sore, unless terpaksa.

Lupa kapan terakhir kali mandi sore. Di Bandung, mandi sore cuma kalo keringetan. Parahnya, gw keringetan cuma pas abis Taekwondo. Lebih parah lagi, sekarang jadwal Taekwondo berubah jadi Minggu PAGI. Jadi kehabisan alesan buat mandi sore.

Tapi kata Devan, anak Farmasi, mandi tuh cukup sekali sehari aja biar pH kulit ga terkikis. hehe…….gimana juga alesan gw gak mandi sore bukan karena pH takut terkikis……..

Ah, I’m not the only one. Lagipula gak mandi sore gak bikin badan bau.

3. Sering berpikir tentang jalan pikiran yang paling dalam: tentang mengapa berpikir tentang pikiran, lalu berkomunikasi dengan orang yang sedang memikirkan hal yang sama di belahan dunia lain, lalu menerka bahwa di masa depan gw akan kembali memikirkan hal yang sama, lalu menganalisis apa yang selanjutnya bakal dipikirkan di masa depan itu, lalu membayangkan di masa itu gw berkata dengan bangga, “Wah, ini udah pernah dipikirin di masa lalu!”, lalu membayangkan lagi gw berseru dengan lebih bangga, “Bahkan gw juga udah menebak akan mengatakan ‘Wah, ini udah pernah dipikirin di masa lalu!’”, lalu……..

???
Yang satu ini agak sulit dijelasin, soalnya rumit. Mungkin cuma orang2 yang punya keanehan yang sama, yang bisa ngerti maksud gw.

4. Amat sangat sulit menghapal jalan, walaupun baru sehari yang lalu berada di situ. Malahan, pas keluar dari suatu tempat gw sering bingung merunutkan kembali jalan pulang, “Tadi datangnya dari sebelah kanan atau kiri ya???”

5. Susah banget buat merasa khawatir.

Berpikir “terlalu” positif ternyata gak baik juga. Rasa cemas itu penting kalo gak melebihi dosis, biar manusia waspada dan gak lengah.

6. Berdasarkan hasil tes, otak kiri dan otak kanan gak ada yang lebih dominan, alias imbang. Di tes yang lain, otak kiri gw dominan. Di tes yang lain lagi, otak kanan gw yang dominan.

Ini bikin gw sering bingung kalo memutuskan sesuatu, karena selalu ada tarik-menarik antara otak kiri dan otak kanan. Di suatu saat gw adalah manusia yang sangat berempati, di saat lain orang yang amat rasional dan “kejam”/dingin.

Tapi kalo soal mutusin cita-cita, udah gak bingung lagi. Untungnya dalam hal ini kedua sisi otak bisa akur. Baru aja sehari yang lalu gw nemuin cita-cita sebenarnya.

Walaupun masih gak setuju kalo cita-cita itu harus diidentikkan dengan profesi/jabatan karir yang pengen diraih, tapi kebetulan aja kali ini cita-cita gw berhubungan dengan jabatan tertentu, yakni Menlu RI :)

Nah, karena menurut peraturan harus men-tag 6 orang, maka gw pilih…

1. Ilham (hamuhamu.wordpress.com)

2. Uqi (ismailfaruqi.wordpress.com)

3. http://cepsaddam.wordpress.com

4. Devan

5. Aep Saepudin

6. Fiqih Santoso

Kebanyakan blog anak PPSDMS nih!Penasaran sih pengen tau keanehan temen2 serumah.

Globalization, or Globalized Colonialism?

Our beloved pedagogue, Mr Wikipedia, said that…

Globalization (British English: Globalisation), refers to increasing global connectivity, integration and interdependence in the economic, social, technological, cultural, political, and ecological spheres. Globalization is an umbrella term and is perhaps best understood as a unitary process inclusive of many sub-processes (such as enhanced economic interdependence, increased cultural influence, rapid advances of information technology, and novel governance and geopolitical challenges) that are increasingly binding people and the biosphere more tightly into one global system.

How do we, in field, see globalization today? Globalization has come into poor countries with plenty of vacancies and opportunities for the people. Then, people held celebrations for it, until they know that they’ve been servants in their own lands.

What more can we say for a condition, in which labors work more than 24 hours for one time, standing in a packaging room without enough spaces to sip at fresh air? The labors are those who sewed our Nike shoes and shirts. And by the way, how much did we usually pay for those apparels? You can imagine how much billions dollars profit Nike Inc.has gained up to now, thanks to its having-no-choice labors (or servants?!).

In Indonesia, most of factory labors working for such giant multinational corporations are just paid $2 per day. Meanwhile, Michael Jordan was paid $20 millions per year for only wearing (not sewing!) Nike basketball shoes on TV. Baca Lanjutannya…

Ketakutan Tebesar Calon Mahasiswa Hukum

Di Indonesia, jumlah calon mahasiswa yang mendaftar ke fakultas hukum tergolong besar dan stabil. Begitu juga di negara-negara lain. Di Amerika Serikat, misalnya, school of law berikut profesi lawyer merupakan yang paling bergengsi dan classy, meskipun ada juga yang mengatakan setingkat di bawah fakultas kedokteran. Namun, betapapun populernya fakultas ini, ternyata masih banyak kesalahpahaman para calon mahasiswa mengenai perkuliahan di fakultas hukum.

Dari pengalaman berbincang dengan beberapa orang, saya menyimpulkan ketakutan terbesar yang dialami calon mahasiswa Hukum adalah “harus menghafal undang-undang”. Saya katakan di sini, ketakutan itu benar-benar tidak beralasan! Di fakultas hukum, mahasiswa tidak dituntut (atau digugat) menghafal KUHP atau undang-undang lainnya. Pekerjaan semacam itu tidak banyak gunanya, terlebih bila suatu saat undang-undang yang telah susah payah dihafalkan tiba-tiba direvisi, seperti halnya KUHPidana yang rancangan revisinya kini sedang digarap. Bahkan, hakim, jaksa, pengacara, notaris atau profesor sekalipun tidak sepenuhnya menghafal undang-undang. Kalaupun ada beberapa pasal yang mereka hafal, itu lantaran pasal-pasal tersebut sering disinggung dalam menjalankan profesi mereka, sehingga terhafal secara alamiah. Memang, ada saatnya mahasiswa dituntut menghafal pasal tertentu, tetapi hanya beberapa pasal yang sangat penting dan mendasar. Baca Lanjutannya…

Gara-gara Foto

“Kak Fikri, Kak Fikri, minta foto buat kenang-kenangan!” anak-anak itu berteriak rusuh sambil berhamburan ke arah gw. Ini cukup bikin gw, yang baru aja nyelundupin kepala ke dalam pagar asrama, kaget. Sempat terpikir juga bahwa mungkin ketika itu seseorang telah menemukan mesin waktu, dan gw berpindah ke zaman lain, ketika gw bernasib mujur menjadi artis bioskop yang dikerubuni fans histeris yang meminta foto (tapi kok fansnya masih cilik-cilik ya? Berarti gw artis cilik dong?!).

Ini bukan pertama kalinya gw saksikan adik-adik TPA itu bertingkah ada-ada saja. Terus terang, semuanya cukup menghibur. Paling-paling, yang bikin gw naik pitam adalah kalo mereka main bola di asrama sampe bikin pekarangan kotor. O ya, satu lagi yang pernah bikin gondok: pohon mengkudu gw pernah dicuri (walaupun belum tentu juga mereka yang melakukannya). Tapi, sejak kami mengajari bocah-bocah itu ngaji (dengan segala keterbatasan ilmu kami), mereka jadi gampang diatur & gak bikin kesel lagi tuh. Ternyata begitu, ya, cara menghadapi anak kecil. Mungkin juga cara ini bisa dipakai menaklukkan orang dewasa suatu saat nanti; konsumen atau klien, mungkin?

Jangan tergesa-gesa meminta. Berikan apa yang kita miliki dengan tulus sepenuh hati, barulah orang lain akan memberi kita miliknya, at least sebuah senyuman manis.

Satu lagi yang unik dari anak-anak: mereka cepat menghapal nama. Sedangkan gw, baru hapal sedikit nama-nama mereka. Jadi malu sendiri..

Kalo dibilang anak-anak lebih cepat menghapal nama karena mereka belom banyak pikiran, kayaknya gak tepat juga. Sebab, mereka pasti juga punya banyak masalah: PR sekolah, mainan idaman yang belom terbeli, omelan dari ortu, dll, yang merupakan persoalan besar menurut kapasitas mereka.

Mungkin, gw sulit menghapal nama mereka karena selama ini (sok) disibukin oleh hal-hal serius, sampe-sampe menganggap remeh masalah menghapal nama dsb, yang sebenarnya juga penting dalam hubungan kemanusiaan….sampe-sampe lupa seberapa besar arti foto kenang-kenangan dari tetangga….sampe-sampe lupa gimana indahnya tertawa sebagai anak kecil yang bermain bola di dalam pagar rumah orang bersama kawan-kawan….

sampe-sampe lupa gimana senangnya diajarin alif ba ta oleh kakak-kakak mahasiswa….sampe-sampe lupa gimana malunya diomelin orang sebelah yang pekarangannya kotor gara-gara bola….sampe-sampe lupa gimana gembiranya ramai-ramai menyapu halaman kakak-kakak baik hati yang telah mengajari ngaji, sebagai ungkapan terima kasih….

Ah, sekali-sekali gw perlu menjadi anak kecil lagi! Biar gak lupa, bahwa dunia ini bukan cuma soal rutinitas dan ambisi, tetapi jauh lebih indah dari itu: belajar, tertawa, menangis, berterima kasih, dan…sedikit kenakalan kecil, sebagaimana anak-anak itu melakukannya.